Pagi itu aku terlambat
ke sekolah. Aku bangun jam 06.25 sedangkan bel masuk sekolah pukul 06.30. Aku
pun tergesa-gesa, mandi pun hanya jebar-jebur karena waktu yang tidak
memungkinkan. Setelah rapih, aku pun bergegas berangkat dan dengan
terburu-buru, ku kayuh sepedaku berusaha untuk tidak terlambat. Sesampainya di
sekolah ternyata hampir saja pintu gerbang mau ditutup, tetapi aku berhasil
masuk. Setelah kuparkirkan sepeda,aku pun bergegas berlari menuju kelas. Saat
berlari menuju kelas, aku tidak sengaja menabrak salah satu siswi. “gubrakkk…”
“eh, maaf ya aku sedang terburu-buru, kamu gapapa?” ucapku sambil menolong
siswi itu yang terjatuh. “gapapa kok” ucap siswi itu. “yaudah aku duluan ya, soalnya
udah terlambat nih” ucapku. “iya iya” jawab siswi tersebut.
Kemudian aku bergegas
berlari menuju kelas dan ternyata benar, aku terlambat. “niko! Kamu terlambat
lagi!” kata bu guru. “iya bu, tadi kesiangan bangunnya” jawabku. “berdiri kamu
disini!” ucap bu guru sambil menyuruh berdiri di depan papan tulis. “iya bu”
jawabku dengan rasa bersalah. Kemudian aku dihukum sampai bel bunyi istirahat.
Saat ditengah jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba ada siswi baru yang masuk ke
dalam kelas. Dan ternyata dia adalah siswi yang tadi pagi aku tabrak saat aku
terlambat. Bu guru pun menyuruhnya memperkenalkan diri kepada teman-teman.
“halooo, namaku Jennifer Hanna panggilanku Hanna aku pindahan dari SMA5, Banjarmasin”
kata siswi tersebut. Kemudian bu guru menyuruh hanna duduk. “yak silahkan duduk
disitu hanna” kata bu guru sambil menunjuk mejaku. Kemudian hanna pun duduk di
mejaku. Akhirnya bel istirahat pun berbunyi dan hukumanku pun berakhir. Saat
istirahat, ternyata hanna tidak pergi ke kantin. Dia malah duduk diam di meja
sambil main hp. Aku pun berinisiatif untuk menghampirinya. “hanna kok kamu gak
ke kantin sih?” tanyaku. “loh kamu kan yang tadi pagi nabrak aku? enggak ah, aku
lagi mau di kelas aja” jawab hanna. “iya hehehe, aku tadi pagi yang nabrak
kamu” jawabku. Tak lama setelah kami ngobrol-ngobrol, bel masuk pun berbunyi
dan kami pun mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga bel pulang berbunyi.
Setelah bel pulang
berbunyi, aku bergegas mengejar hanna
yang langsung menuju pintu gerbang sekolah. Aku pun menghampiri hanna “hanna
rumah kamu dimana?” tanyaku. “rumahku di komplek sunter blok KIII nomer 11”
jawab hanna. “lohh berarti kita satu blok dong, bareng aku aja han” kataku
sambil menawari tumpangan. “hmm gak ngerepotin apa?”kata hanna. “engga kok
orang satu arah juga” jawabku. “hmm iya deh” kata hanna. Kemudian hanna menaiki
sepedaku dan di sepanjang jalan kami pun ngobrol-ngobrol sambil bercanda. Di
tengah perbincangan kami, aku iseng nanya-nanya tentang hanna. “han kamu
pindahan dari Banjaramasin kan ya, kok kamu malah pindah ke Jakarta sih?” tanyaku.
“soalnya papaku kerja di Jakarta, jadi kalo pulang ke Banjarmasin ya sebulan
sekali” jawab hanna. “terus kenapa sih kamu milih sekolah di SMA48?” tanyaku
lagi. “kenapa aku sekolah di SMA48 ya karna dulu papaku sekolah disitu” jawab
hanna. Setelah kami berbincang-bincang, tidak terasa sudah sampai dirumah
hanna. “hmm niko, makasih ya udah mau nganterin aku pulang” kata hanna dengan
lembut. “iya han sama-sama” jawabku. “kamu gak mau mampir dulu apa? minum dulu
yuk ke dalem” kata hanna sambil menawari aku. “gak usah lah han, lain waktu aja
lagian aku juga capek mau langsung istirahat” jawabku. “yaudah kamu hati-hati
ya, sekali lagi makasih nikooo” kata hanna. “iya sama-sama” jawabku dengan
senang.
Saat itu, gak tau
kenapa aku selalu membayangi muka hanna terus. Sampai-sampai yang tadinya ingin
langsung tidur, tidak jadi tidur siang hanya sibuk pikiranku membayangi
mukanya. Kemudian keesokan harinya, tumben sekali aku niat untuk bangun pagi.
Gak seperti biasanya sering terlambat. Hingga di sekolah, aku langsung duduk di
mejaku, akan tetapi sepertinya aku berangkat terlalu pagi. Akupun menunggu
hanna, tetapi hanna tidak datang juga.
Hanna pun datang dan
langsung duduk di mejaku. “halooo niko” sapanya sambil tersenyum. “halo hanna”
jawabku. “oh ya kamu udah ngerjain pr belom?” Tanya hanna. “hah pr? emang ada?”
tanyaku. “ada nikooo, pr matematika, kamu sih kalo guru ngasih pr bukannya
dicatet” kata hanna sambil memarahiku. “hmmm, oh iya pr yg itu kan, aku lupa
han ngerjainnya” kataku sambil alesan. “oh ya oh ya, yaudah kerjain gih mumpung
masih pagi” kata hanna menyuruhku. “iya bosss, tapi aku gak ngerti han tentang
materinya hehehe” alasanku biar diajarin sama hanna. “yaudah sini aku ajarin”
kata hanna sambil mengajariku. Tak lama bel masuk berbunyi dan seperti biasa
aku, hanna dan teman-teman mengikuti kegiatan belajar mengajar.
*kring… kring… kring…* bel pulang berbunyi
Aku langsung mengambil sepeda menuju gerbang,
ternyata di gerbang sekolah udah ada hanna yang sedang berdiri sendirian lalu
aku menyamparinya. “hanna” kataku. “eh si niko, kenapa nik?” Tanya hanna.
“gapapa kok han, kamu pulang sama siapa?” tanyaku. “gak tau nih, aku nunggu
akutan umum dari tadi gak lewat-lewat” kata hanna. “yaudah pulang bareng aku
lagi aja, yukk” ajakku. “yaudah ayuk” jawab hanna. Seperti kemarin, kami
bercanda-canda. Tiba-tiba si hanna ngomong gini “eh nik, aku manggil nama kamu
iko aja ya, biar kita keliatan akrab gitu” kata hanna. “eh cie yang pengen
akrab” sautku sambil meledek. “yee siapa juga yang pengen akrab” kata hanna
sambil mengelak. “gapapa kali han, boleh kok boleh” jawabku. “iko, iko, iko
hahaha lucu juga ya manggilnya” kata hanna sambil ketawa. “iya aja dah buat
hanna mah, apasih yang engga” jawabku.
Setelah hari-hari yang aku jalani, gak tau
kenapa sepertinya rasa ini makin tumbuh. Tetapi aku gak berani
mengungkapkannya, ya seperti yang lainnya cinta pertama itu susah diungkapkan. Biarlah
kupendam rasa ini sampai pada waktunya diungkapkan.
*8
tahun kemudian*
Setelah lulus dari SMA48, aku kuliah di Universitas
Muhammadiyah, Malang. Entah dimana sekarang hanna berada, aku sudah lama tidak
bertemu hanna lagi. Pernah aku sesekali ke rumahnya yang dulu, tapi rumahnya
sudah kosong sepertinya dia sudah pindah. Sudahku berusaha nanya ke
sahabat-sahabatnya tetapi mereka gak tau dimana hanna tinggal. Semenjak aku
tinggal di Malang, tepatnya di kota batu, aku mulai berusaha mencari pengganti
sosok hanna tapi tidak ada wanita yang bisa menggantikan sosoknya. Akhirnya aku
menemukan pengganti hanna, namanya Alicia Chanzia panggilannya acha. Aku sudah
berpacaran dengannya, kurang lebih 1 tahun sudah kujalani hubungan itu.
Suatu
saat ketika aku sedang jalan-jalan dengan acha, aku melihat sosok perempuan
yang rambutnya pendek sama seperti hanna sedang berjalan lewat di depan suatu
toko. “tapi gak mungkin ah itu hanna, masa iya ada disini” pikirku. Tapi rasa
penasaran yang meninggi membuatku untuk mengejar perempuan itu. “cha, kamu
tunggu disini sebentar ya, aku mau kesana” kataku ke acha. “mau kemana niko?”
Tanya acha sambil memegang tanganku. “sebentar doang cha, please” kataku sambil
meyakinkan acha. “yaudah iya” kata acha sambil menunjukan muka bete. Kemudian
aku berlari mengejar perempuan itu yang sudah jauh, dan ketika aku panggil
“hanna” perempuan itu pun menoleh ke arahku dan benar itu ternyata si hanna.
Lalu dengan rasa kaget bertemu denganku, hanna langsung memelukku “nikooo, kamu
kemana aja?” Tanya hanna sambil nangis. “maaf ya, aku gak kasih tau kamu kalo
aku kuliah disini” jawabku sambil menatap matanya. “maafin aku juga ya, aku
udah gak ngasih kabar ke kamu kalo aku pindah kesini” jawab hanna masih
menangis. “lohh kamu kuliah disini juga?” tanyaku. “iya aku kuliah di
Universitas Hayam Wuruk, kamu dimana?” Tanya hanna. “kalo aku di Muhammadiyah”
jawabku. “yaudah han kapan-kapan nanti aku main kerumah kamu ya, aku lagi
ditunggu temen nih” kataku. ”iya iya, nih alamatku ya jangan lupa main lohh
awas” kata hanna sambil ngasih alamatnya. Kemudian setelah menemui hanna, aku
pun kembali menemui acha.
Kemudian
keesokan harinya aku main ke rumah hanna, dan sambil melepas rindu aku dan
hanna bernostalgia waktu masa-masa SMA. Di tengah-tengah perbincangan ini,
ternyata hanna mengungkapkan isi hatinya. Dia mengungkapkan betapa bahagianya
ia berada di dekatku. Waktu itu dia suka kepadaku tapi gak berani
mengungkapkannya. Ya menurutku itu maklum kan dia cewe, masa iya cewe yang
ungkapin duluan. Dan disitulah bodohnya aku tidak berani mengungkapkan perasaan
ini. Lalu aku bicara kepada hanna bahwa aku itu sudah ada yang punya. “han
sebenernya aku sudah ….” Kataku dengan terbata-bata. “sudah apa?” Tanya hanna
sambil memegang tanganku. “aku sudah punya pacar han” jawabku. Kemudian
ekspresi muka hanna terlihat kecewa dan melepas tanganku, akan tetapi aku
berusaha mebuatnya senang. Akupun mengajaknya berjalan-jalan. Waktu sedang
berjalan-jalan, tidak disangka aku bertemu dengan acha. Acha melihatku jalan
dengan hanna dan mempergoki aku. Disitu aku berusaha menjelaskan apa yang
terjadi, ini semua salah paham. Tetapi acha tidak mau dengar penjelasanku.
Akhirnya aku pun putus dengan acha. Kemudian hanna berkata “maaf ya nik,
gara-gara aku kamu putus sama pacar kamu” kata hanna. “iya han gapapa, ini
semua Cuma salah paham kok” jawabku.