Sabtu, 23 November 2013

Menunggumu








Pagi itu aku terlambat ke sekolah. Aku bangun jam 06.25 sedangkan bel masuk sekolah pukul 06.30. Aku pun tergesa-gesa, mandi pun hanya jebar-jebur karena waktu yang tidak memungkinkan. Setelah rapih, aku pun bergegas berangkat dan dengan terburu-buru, ku kayuh sepedaku berusaha untuk tidak terlambat. Sesampainya di sekolah ternyata hampir saja pintu gerbang mau ditutup, tetapi aku berhasil masuk. Setelah kuparkirkan sepeda,aku pun bergegas berlari menuju kelas. Saat berlari menuju kelas, aku tidak sengaja menabrak salah satu siswi. “gubrakkk…” “eh, maaf ya aku sedang terburu-buru, kamu gapapa?” ucapku sambil menolong siswi itu yang terjatuh. “gapapa kok” ucap siswi itu. “yaudah aku duluan ya, soalnya udah terlambat nih” ucapku. “iya iya” jawab siswi tersebut.

Kemudian aku bergegas berlari menuju kelas dan ternyata benar, aku terlambat. “niko! Kamu terlambat lagi!” kata bu guru. “iya bu, tadi kesiangan bangunnya” jawabku. “berdiri kamu disini!” ucap bu guru sambil menyuruh berdiri di depan papan tulis. “iya bu” jawabku dengan rasa bersalah. Kemudian aku dihukum sampai bel bunyi istirahat. Saat ditengah jam pelajaran berlangsung, tiba-tiba ada siswi baru yang masuk ke dalam kelas. Dan ternyata dia adalah siswi yang tadi pagi aku tabrak saat aku terlambat. Bu guru pun menyuruhnya memperkenalkan diri kepada teman-teman. “halooo, namaku Jennifer Hanna panggilanku Hanna aku pindahan dari SMA5, Banjarmasin” kata siswi tersebut. Kemudian bu guru menyuruh hanna duduk. “yak silahkan duduk disitu hanna” kata bu guru sambil menunjuk mejaku. Kemudian hanna pun duduk di mejaku. Akhirnya bel istirahat pun berbunyi dan hukumanku pun berakhir. Saat istirahat, ternyata hanna tidak pergi ke kantin. Dia malah duduk diam di meja sambil main hp. Aku pun berinisiatif untuk menghampirinya. “hanna kok kamu gak ke kantin sih?” tanyaku. “loh kamu kan yang tadi pagi nabrak aku? enggak ah, aku lagi mau di kelas aja” jawab hanna. “iya hehehe, aku tadi pagi yang nabrak kamu” jawabku. Tak lama setelah kami ngobrol-ngobrol, bel masuk pun berbunyi dan kami pun mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga bel pulang berbunyi.

Setelah bel pulang berbunyi,  aku bergegas mengejar hanna yang langsung menuju pintu gerbang sekolah. Aku pun menghampiri hanna “hanna rumah kamu dimana?” tanyaku. “rumahku di komplek sunter blok KIII nomer 11” jawab hanna. “lohh berarti kita satu blok dong, bareng aku aja han” kataku sambil menawari tumpangan. “hmm gak ngerepotin apa?”kata hanna. “engga kok orang satu arah juga” jawabku. “hmm iya deh” kata hanna. Kemudian hanna menaiki sepedaku dan di sepanjang jalan kami pun ngobrol-ngobrol sambil bercanda. Di tengah perbincangan kami, aku iseng nanya-nanya tentang hanna. “han kamu pindahan dari Banjaramasin kan ya, kok kamu malah pindah ke Jakarta sih?” tanyaku. “soalnya papaku kerja di Jakarta, jadi kalo pulang ke Banjarmasin ya sebulan sekali” jawab hanna. “terus kenapa sih kamu milih sekolah di SMA48?” tanyaku lagi. “kenapa aku sekolah di SMA48 ya karna dulu papaku sekolah disitu” jawab hanna. Setelah kami berbincang-bincang, tidak terasa sudah sampai dirumah hanna. “hmm niko, makasih ya udah mau nganterin aku pulang” kata hanna dengan lembut. “iya han sama-sama” jawabku. “kamu gak mau mampir dulu apa? minum dulu yuk ke dalem” kata hanna sambil menawari aku. “gak usah lah han, lain waktu aja lagian aku juga capek mau langsung istirahat” jawabku. “yaudah kamu hati-hati ya, sekali lagi makasih nikooo” kata hanna. “iya sama-sama” jawabku dengan senang.

Saat itu, gak tau kenapa aku selalu membayangi muka hanna terus. Sampai-sampai yang tadinya ingin langsung tidur, tidak jadi tidur siang hanya sibuk pikiranku membayangi mukanya. Kemudian keesokan harinya, tumben sekali aku niat untuk bangun pagi. Gak seperti biasanya sering terlambat. Hingga di sekolah, aku langsung duduk di mejaku, akan tetapi sepertinya aku berangkat terlalu pagi. Akupun menunggu hanna, tetapi hanna tidak datang juga.

Hanna pun datang dan langsung duduk di mejaku. “halooo niko” sapanya sambil tersenyum. “halo hanna” jawabku. “oh ya kamu udah ngerjain pr belom?” Tanya hanna. “hah pr? emang ada?” tanyaku. “ada nikooo, pr matematika, kamu sih kalo guru ngasih pr bukannya dicatet” kata hanna sambil memarahiku. “hmmm, oh iya pr yg itu kan, aku lupa han ngerjainnya” kataku sambil alesan. “oh ya oh ya, yaudah kerjain gih mumpung masih pagi” kata hanna menyuruhku. “iya bosss, tapi aku gak ngerti han tentang materinya hehehe” alasanku biar diajarin sama hanna. “yaudah sini aku ajarin” kata hanna sambil mengajariku. Tak lama bel masuk berbunyi dan seperti biasa aku, hanna dan teman-teman mengikuti kegiatan belajar mengajar.

*kring…  kring… kring…* bel pulang berbunyi
Aku langsung mengambil sepeda menuju gerbang, ternyata di gerbang sekolah udah ada hanna yang sedang berdiri sendirian lalu aku menyamparinya. “hanna” kataku. “eh si niko, kenapa nik?” Tanya hanna. “gapapa kok han, kamu pulang sama siapa?” tanyaku. “gak tau nih, aku nunggu akutan umum dari tadi gak lewat-lewat” kata hanna. “yaudah pulang bareng aku lagi aja, yukk” ajakku. “yaudah ayuk” jawab hanna. Seperti kemarin, kami bercanda-canda. Tiba-tiba si hanna ngomong gini “eh nik, aku manggil nama kamu iko aja ya, biar kita keliatan akrab gitu” kata hanna. “eh cie yang pengen akrab” sautku sambil meledek. “yee siapa juga yang pengen akrab” kata hanna sambil mengelak. “gapapa kali han, boleh kok boleh” jawabku. “iko, iko, iko hahaha lucu juga ya manggilnya” kata hanna sambil ketawa. “iya aja dah buat hanna mah, apasih yang engga” jawabku.   

 Setelah hari-hari yang aku jalani, gak tau kenapa sepertinya rasa ini makin tumbuh. Tetapi aku gak berani mengungkapkannya, ya seperti yang lainnya cinta pertama itu susah diungkapkan. Biarlah kupendam rasa ini sampai pada waktunya diungkapkan.

*8 tahun kemudian*
Setelah lulus dari SMA48, aku kuliah di Universitas Muhammadiyah, Malang. Entah dimana sekarang hanna berada, aku sudah lama tidak bertemu hanna lagi. Pernah aku sesekali ke rumahnya yang dulu, tapi rumahnya sudah kosong sepertinya dia sudah pindah. Sudahku berusaha nanya ke sahabat-sahabatnya tetapi mereka gak tau dimana hanna tinggal. Semenjak aku tinggal di Malang, tepatnya di kota batu, aku mulai berusaha mencari pengganti sosok hanna tapi tidak ada wanita yang bisa menggantikan sosoknya. Akhirnya aku menemukan pengganti hanna, namanya Alicia Chanzia panggilannya acha. Aku sudah berpacaran dengannya, kurang lebih 1 tahun sudah kujalani hubungan itu.

            Suatu saat ketika aku sedang jalan-jalan dengan acha, aku melihat sosok perempuan yang rambutnya pendek sama seperti hanna sedang berjalan lewat di depan suatu toko. “tapi gak mungkin ah itu hanna, masa iya ada disini” pikirku. Tapi rasa penasaran yang meninggi membuatku untuk mengejar perempuan itu. “cha, kamu tunggu disini sebentar ya, aku mau kesana” kataku ke acha. “mau kemana niko?” Tanya acha sambil memegang tanganku. “sebentar doang cha, please” kataku sambil meyakinkan acha. “yaudah iya” kata acha sambil menunjukan muka bete. Kemudian aku berlari mengejar perempuan itu yang sudah jauh, dan ketika aku panggil “hanna” perempuan itu pun menoleh ke arahku dan benar itu ternyata si hanna. Lalu dengan rasa kaget bertemu denganku, hanna langsung memelukku “nikooo, kamu kemana aja?” Tanya hanna sambil nangis. “maaf ya, aku gak kasih tau kamu kalo aku kuliah disini” jawabku sambil menatap matanya. “maafin aku juga ya, aku udah gak ngasih kabar ke kamu kalo aku pindah kesini” jawab hanna masih menangis. “lohh kamu kuliah disini juga?” tanyaku. “iya aku kuliah di Universitas Hayam Wuruk, kamu dimana?” Tanya hanna. “kalo aku di Muhammadiyah” jawabku. “yaudah han kapan-kapan nanti aku main kerumah kamu ya, aku lagi ditunggu temen nih” kataku. ”iya iya, nih alamatku ya jangan lupa main lohh awas” kata hanna sambil ngasih alamatnya. Kemudian setelah menemui hanna, aku pun kembali menemui acha.

            Kemudian keesokan harinya aku main ke rumah hanna, dan sambil melepas rindu aku dan hanna bernostalgia waktu masa-masa SMA. Di tengah-tengah perbincangan ini, ternyata hanna mengungkapkan isi hatinya. Dia mengungkapkan betapa bahagianya ia berada di dekatku. Waktu itu dia suka kepadaku tapi gak berani mengungkapkannya. Ya menurutku itu maklum kan dia cewe, masa iya cewe yang ungkapin duluan. Dan disitulah bodohnya aku tidak berani mengungkapkan perasaan ini. Lalu aku bicara kepada hanna bahwa aku itu sudah ada yang punya. “han sebenernya aku sudah ….” Kataku dengan terbata-bata. “sudah apa?” Tanya hanna sambil memegang tanganku. “aku sudah punya pacar han” jawabku. Kemudian ekspresi muka hanna terlihat kecewa dan melepas tanganku, akan tetapi aku berusaha mebuatnya senang. Akupun mengajaknya berjalan-jalan. Waktu sedang berjalan-jalan, tidak disangka aku bertemu dengan acha. Acha melihatku jalan dengan hanna dan mempergoki aku. Disitu aku berusaha menjelaskan apa yang terjadi, ini semua salah paham. Tetapi acha tidak mau dengar penjelasanku. Akhirnya aku pun putus dengan acha. Kemudian hanna berkata “maaf ya nik, gara-gara aku kamu putus sama pacar kamu” kata hanna. “iya han gapapa, ini semua Cuma salah paham kok” jawabku.

            Setelah putus dengan acha, gak tau kenapa hubunganku dengan hanna semakin dekat. Disinilah aku mulai mengungkapkan “hanna” kataku. “apa nik?” jawab hanna. “hm kamu mau gak…” kataku. “mau apa?” Tanya hanna. “hmmm jadi pacarku” kataku. “hah serius nik?” Tanya hanna dengan ekspresi senang. “iya serius masa iya boong mulu” jawabku. “hehe iya aku mau kok jadi pacar kamu” jawab hanna dengan sangat senang. Akhirnya kita pun kembali bersama lagi sama seperti waktu SMA.

Last Words Part I



      



“Gorden, Buka!” ucapku perlahan, lalu Gorden pun bergerak terbuka secara otomatis. Perlahan cahaya Matahari pagi mulai menyinari ruangan.  “Fiz, buruan!! Udah jam setengah delapan!!” Teriak seseorang dari luar kamar. Aku pun menoleh ke arah jam dinding yang tergantung, dan waktu sudah menunjukkan pukul 07:25. Aku pun terbelalak dan langsung berlari ke kamar mandi.

Keluar kamar dengan pakaian yang masih amburadul, kutemui Ibu didapur dan mencium tangannya. “Pergi dulu yaa Mom, udah telat nih, baydeway, Bang nicko mana?” ucapku, “Udah duluan dia tadi” balas Ibuku. Berhubung Ayah sedang liburan ke Bulan, aku pun segera menuju ke Garasi rumah. Pintu garasi pun terbuka otomatis ketika aku berada 2 meter di depan garasi, akupun langsung menuju ke Kendaraan Pribadiku, ScanEagle. Aku pun memacunya menuju ke Sekolahku yang cukup terkenal karena Siswinya yang Cantik, yakni SMA 48. Aku kasih yaa list cewek cakep di sekolah ini: Melody, Nabilah, Ve, Ayana, Akicha, Delima, Stella, dan Banyakk lagi. Yups, aku merasa beruntung bisa masuk ke Sekolah ini, apalagi setelah aku tau kalau aku sekelas dengan Acha. Acha itu adalah siswi kelas satu yang sangat Exclusive, sangat dihormati karena Ayahnya adalah pemilik dari Tanah sekolah. Hampir seluruh siswa kelas satu bahkan kakak kelas berdelusi ingin menjadi Kekasih Hatinya, termasuk aku. Selain Acha, ada Beby, kakak kandung Acha. Adeknya aja udah Exclusive, apalagi kakaknya.

Oke, cukup cerita soal Acha dan Beby. Nah, berhubung jarak Sekolah dan Mansionku yang gak terlalu jauh aku pun tiba di Sekolah pukul 07:57 atau 3 menit sebelum Upacara dimulai. Kuparkir kendaraan ku di Basement Sekolah dan langsung menuju ke Kelas. Seluruh kelas sontak terdiam melihat aku masuk, yaa, ini sudah biasa bagiku.  Ayahku yang seorang pengusaha sukses sekaligus Orang terkaya ke 3 di Dunia dan Ibuku yang seorang Fashion designer Terkenal di Dunia membuatku dan Abangku sudah terbiasa menjadi pusat perhatian. Ya, walau banyak cewek yang menyatakan perasaannya padaku, entah mengapa aku tidak mau, aku berpikir mereka hanya mau Uangku. Tapi alasan utamaku menolak mereka adalah karena Acha.

Bel sekolah berbunyi, aku pun melangkah ke luar kelas dan menuju ke Basement tempat ScanEagleku diparkir. Sesaat sebelum meninggalkan sekolah, akupun teringat akan sesuatu. Aku melupakan Handphoneku di kelas, akan sangat disayangkan kalau HP seharga 1,7 Milliar itu hilang. Aku pun memarkir ScanEagle dan berlari ke kelas. Ternyata, di dalam kelas ada seorang siswi yang belum pulang, yaitu Acha! Aku pun pura-pura cuek dan langsung ke Mejaku untuk mengambil HP dan masih ada, aku pun tersenyum dan menyimpan HP tersebut.  Aku yang dari tadi pura pura cuek, mencoba mendekati Acha. “Kenapa lo masih disini? Kan udah selesai sekolahnya” tanyaku, “Lagi nunggu jemputan” jawabnya sambil tersenyum. Deg.. deg.. deg.. Entah kenapa, perasaan gue berubah, rasanya gue ada di Surga mendengar suaranya. “Hmm, lo.. lo mau gak.. kalau gue antar?” tanyaku dengan nada gugup. Sontak ia pun kaget, belum pernah ada Cowok manapun yang berani nawarin tumpangan ke dia. “Hmm, yaudah, kamu tau Mansion aku kan?” tanyanya ragu, “Tau dong, tuan Putri” Jawabku gombal. Beuh, Gilaa !! Seneng banget rasanya. Rasanya itu kaya ada Ular, ularnya itu gigit gue dan Ularnya mati!

Kami pun berjalan keluar kelas dan menuju tempat ScanEagle kuparkirkan. Kupacu motor perlahan, sangat pelan, aku tidak ingin momen ini cepat berlalu. “Pegangan dong, ntar kamu jatuh loh” pintaku iseng sambil tertawa kecil, ia pun membalasnya dengan senyum manisnya. Tiba-tiba, ia melingkarkan tangannya di perutku dan menyandarkan kepalanya di punggungku. Deg.. deg.. deg.. Lagi-lagi perasaan ini muncul, aku merasa menjadi Pria paling beruntung di Dunia dan Akhirat.

Tapi, semua kebahagian ini luntur seketika saat Kami mulai dekat dengan Mansion Acha. Aku pun mencoba semakin melambat, tak rela rasanya hati ini melepas momen terindah dalam hidupku ini. Akhirnya kamipun sampai di Gerbang Mansion Acha, ia pun turun dari ScanEagle ku. “Makasih banget ya tumpangannya, Fiz” Ucapnya sambil tersenyum. Duh, senyumnya itu berirama banget, bikin aku pingin menari.  “Hmm, besok pagi kujemput mau gak??” Tanyaku padanya, “Pulangnya aku anterin juga deh, plus Eskrim deh” tambahku. “Duh.. Gimana yaa?” Ucapnya bingung, “Gini aja, kalau bingung, nanti aku Telpon aja deh kamu, gimana ? mau gak ? berapa nomer HP kamu?” | “Hmm, oke deh, catet .. 084824051999, nanti malem telepon yaa” Ia pun langsung berbalik dan masuk kedalam Mansion, samar samar dari luar kuperhatikan Ia. “Oke, gue pasti bakal dapetin dia!” Kubulatkan tekadku untuk menjadi Kekasih dari Acha.

Malam harinya, aku pun langsung menelpon nomer tersebut. “Hallo, bisa bicara dengan Acha? Saya Hafiz” | “Hafiz ya? *TertawaKecil*, ini aku sendiri Fiz” | “Oke, Gimana cha?? Mau gak besok aku jemput? Free Eskrim kok” Kucoba Bercanda | “Hmm, yaudah deh, free eskrim kan?” | “Iya, biar aku tebak, rasa Coklat campur Vanilla kan?” | “Ihh, kok bisa tau sih? Hebat” | “ Iya dong, aku kan tau segalanya tentang kamu” | “Gombal ihh..”.  Akhirnya kami pun keasyikan dan terus menelpon hingga pukul 11 malam, Acha pun mengakhiri pembicaraan dan menutup telepon.

Pagi harinya, aku bangun cepat sekali, pukul 7 pagi aku udah siap dengan pakaian rapi dan wangi. Ibuku yang melihat pemandangan tak biasa itu pun heran. “Kamu kenapa sih? Dari tadi senyam senyum sendiri? Hmm, pasti mau ketemu pacar kamu kan?” Goda Ibu, “Ihh, apaan sih mom, Pergi dulu yaa” Ucapku sambil mencium tangan Ibu, “Ehh, kok cepet banget? Kan kelas baru mulai satu setengah jam lagi” tanya ibuku, “Duh mom, ada urusan nih, bye” ucapku sembari berlari ke Garasi.

Akhirnya aku tiba di depan Mansion sang Pujaan Hati ini, Acha. Ia yang sudah menungguku di depan Mansionnya langsung naik ke ScanEagleku. Waktu menunjukkan pukul 7:15 pagi, aku pun memacu motorku ke Toko Es Krim yang cukup terkenal yakni Baskom dan Ruben. Setibanya disana, aku pun memesan Es Krim Coklat Vanilla untuk Acha dan Vanilla Coklat untukku. Dengan Es Krim yang masih dibungkus, aku pun memacu motorku ke Taman di dekat SMA 48, aku membawa motorku agak Cepat karena aku tidak ingin Es Krimnya cair. Setibanya di Taman, waktu masih menunjukkan 7:30, aku sih kurang khawatir karena sekarang tidak Upacara dan kelas baru dimulai pukul 8:30. Kami pun menikmati Es Krim di Bangku taman, dibawah Pohon sambil menikmati Es Krim masing masing dan Bercanda. Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 8, kami pun bergegas berangkat ke Sekolah.

Tidak terasa, waktu yang kunantikan tiba, yakni jam pulang. Aku pun menghampiri meja Acha tanpa mengatakan apapun. Ia tampak melihat ku seakan menunggu aku akan mengatakan sesuatu, tatapan tersebut membuatku seakan meleleh. Ia pun bertanya dengan lugunya “Kenapa sih liatin aku gitu?” | “Haha, bercanda doang, gimana? Udah siap? Yuk pulang, mau dibeliin Es Krim lagi gak?” | “Es Krim? Mau dong” jawabnya sambil tertawa kecil. Yaa, pokoknya hari ini aku seneng banget bisa akrab sama Acha, Cewe Langka disekolah kami.

Hari hari berikutnya kami jalani dengan penuh Keakraban, mulai dari Nonton Bareng,  Jalan-jalan, Belanjain Acha, pokoknya Have Fun banget. Sampe aku mutusin untuk Nembak dia pas hari ulang tahunnya yang kebetulan sedang libur sekolah.  Aku ingin membawanya berlibur ke Luar Negeri pada hari ulang tahunnya, yakni ke Paris, dan aku ingin menyatakan Cintaku di bawah Megah dan Romantisnya Menara Eiffel.

Untuk mewujudkan rencanaku itu, aku pun bertemu dengan Orang Tua Acha, Supriyadi Kusumu Chanzia, Orang yang sangat dihormati oleh seluruh warga SMA 48. Setelah berbincang bincang dan sedikit mambujuk, akhirnya Ayah Acha setuju dan memperbolehkan Aku dan Acha liburan ke Luar Negeri, aku tidak memberitahukan kalau tujuan aku kesitu adalah untuk menyatakan perasaannku padanya. Tetapi, kami kesana tidak berdua saja, Ayah Acha mengharuskan Nicko dan Beby ikut bersama kami.

Hari yang ditunggu pun tiba, tanggal 20 Mei. Kami berempat menggunakan jasa Pesawa Sky Aviation dengan Class VVIP. Sepanjang perjalanan kami nikmati masing masing, aku dari tadi tidak bisa berhenti melamun memandangi Acha, Acha yang menyadari kalau aku sedang memperhatikannya pun bertanya padaku “Kenapa sih liatin aku sampe begitunya? Ada apaan di mukaku?” | ”Mmm, nggak.. nggak ada apa apa kok” Jawabku spontan sembari tersadar dari lamunanku.  Seru banget perjalanan kami kali ini, aku tambah seneng ngeliat Abangku udah mulai PDKT sama kakaknya Acha.